Sejarah TPQ Baiturrohman


      Sejarah berdirinya TPQ Baiturrohman memiliki perjalanan yang sangat panjang dan berliku, dimana peran pentng dari seseorang yang memiliki kepedulian yang sangat tinggi akan kualitas bacaan Al Quran. Ya, beliau adalah Bapak Muhammad Sholehudin, seseorang yang sekarang diamanahi menjadi Kepala TPQ Baiturrohman. Beliau adalah aktifis musholla dan masjid di kampung halaman. Budaya mengajarkan Al Quran kepada anak-anak mungkin sudah banyak ditemui hampir di setiap daerah, tiap-tiap musholla atau masjid, tak terkecuali di TPQ Baiturrohman yang saat itu belum memiliki status TPQ. Kualitas pembelajarannya masih di bawah standar karena belum memiliki sistem dan metode pembelajaran yan baik dan gurunya pun hanya sebatas orang yang pernah belajar atau ngaji Quran dan belum ada standar kualitas untuk Guru TPQ.

      Suatu saat Beliau diundang untuk mengikuti diklat suatu metode baru dalam mengajarkan Al Quran. Pada awalnya Belia merasa aneh dengan metode yang baru saja diberikan kepadanya karena dirasa sangat sulit, bahkan tak jarang sering tertawa karena keunikan dalam melafalkan makhroj huruf tertentu. Tampaknya kesulitan dan keunikan ini membuat suatu tantangan tersendiri bagi Beliau. Yang kita ketahui selama ini dalam membaca Al Quran hanya bisa mengucapkan huruf hijaiyah tanpa kita mengetahui makhroj dan sifatul hurufnya. Akhirnya melalui sebuah perenungan yang cukup panjang akhhirnya Beliau serius untuk mulai belajar mengkaji metodetersebut. Di usia Beliau yang sudah cukup tua, Beliau rela untuk mengaji dari awal dari Jilid satu, mulai dari huruf alif. Namun berkat ketekunan beliau, singkat cerita beliau lulus dan mendapatkan ijazah untuk bisa menggunakan dan mengajarka metode Qiroati kepada santri-santrinya.

      Setelah beliau berhasil mendapatkan ijazah sebagai seorang ustadz qiroati yang boleh mengajarkan kepada santri-santrinya, sejak saat itu sistem pendidikan al quran yang ada diubahnya menggunakan metode qiroati. Para santri mulai diajarkan dengan menggunakan metode yang baru ini. Jelas mereka pada awalnya tertawa karena dianggapnya lucu dan menyulitkan terutama santri yang sudah agak besar yang berada di jilid atas seperti kelas Al Quran karena mereka sudah terbiasa dengan bacaan yang selama ini dia dapat. Ada yang menarik saat itu yaitu ketika akan diadakannya khtomil quran bagi santri Al Quran yang sudah khatam. Kebanyakan dari mereka masih menggunakan metode lama sehingga bacaannya masih 'berantakan' namun ada satu peserta yang telah berhasil mengikuti pembelajaran dengan metode qiroati serta ikut dalam acara khotmil quran dan hasilnya sangat berbeda jauh kualitas bacaannya. Dengan adanya hal itu Ustadz Muhammad Sholehudin mempunyai kesimpulan bahwa metode qiroati memang luar biasa dan sistem pendidikan Al Quran yang lama harus segera diganti dengan metode yang baru.

      Saat itulah beliau mulai berpikir untuk mendirikan sebuah wadah pendidikan yang terorganisir dengan menggunakan metode qiroati. Beliau mulai bergerak dengan mengajak rekan-rekan aktivis masjid dan musholla. Awalnya ada satu aktivis masjid dan dia juga memiliki santri di daerahnya. Beliau mengenalkan tentang metode qiroati kepada aktivis masjid tersebut, karena ini adalah metode baru yang baru dia kenal mungkin ada keraguan pada dirinya, hingga Ustadz Muhammad Sholehudin memberikan satu pertanyaan yang jitu kepadanya. Beliau menyuruhnya untuk membaca huruf 'sa' dan 'sho' dengan harokat fathah, lalu dia pun membacanya. Kemudian beliau melanjutkan perintahnya untuk membacanya dengan harokat kasrah, dan ia pun membacanya. Dan yang menarik, saat dia membacanya dengan harokat kasroh, ia membaca dua huruf hijaiyah tersebut dengan suara dan lavadz yang sama. Saat itu juga Ustadz Muhammad Sholehudin memberikan komentarnya. "Mengapa Anda membaca dua huruf hijaiyah dengan bunyi yang sama? Padahal tak ada satu pun dari huruf hijaiyah yang memiliki makhroj yang sama?", tanya beliau kepada aktivis tersebut. Pemuda tersebut hanya terdiam dan akhirnnya dengan pemikiran yang matang dia bersedia untuk belajar dengan metode qiroati.

      Ustadz Muhammad Sholehudin memiliki kesabaran yang tinggi dalam mengajarkannya. Satu demi satu para aktivis dan rekannya berhasil beliau bimbing dan suatu saat diadakannya pembinaan gratis bagi para ustadz atau aktivis masjid dan musholla di lingkungan sekitar yang terbiasa mengajarkan pendidikan Al Quran kepada santrinya. Mereka yang menanggapinya dengan positif sangat antusias mengikuti acara ini. Mereka rela menghadirinya secara berkesinambungan walaupun jarak yang mereka tempuh cukup jauh dan hanya ditempuh dengan berjalan kaki. Satu tekad dan satu harapan untuk bisa nampaknya menjadi motifasi dan kekuatan tersendiri bagi mereka. Namun tidak seditik pula dari mereka yang kandas di tengah jalan dan tidak melanjutkan pembinaan karena faktor kesibukan dan lain sebagainya. Mereka yang berhasil mengikuti program pembinaan ini hingga selesai dan dirasa oleh Ustadz Muhamad Sholehudin layak untuk mengikuti tashih ustadz di Koordinator Cabang (Korcab) Kebumen maka didaftarkannya untuk mengikuti tashih. Seseorang yang lulus tashih maka dia sudah diakui sebagai ustadz qiroati dan memiliki wewenang untuk mengajarkan Al Quran dengan menggunakan metode qiroati. Pada awalnya, hanya satu peserta yang di ajukan untuk mengikuti tashih ustadz ini dan hasilnya berhasil ia lulus. Kemudian pada periode berikutnya beliau mendaftarkan tiga peserta hasil pembinaannya, dan hasilnya pun sama ketiga peserta tersebut berhasil lulus dan mendapatkan ijazah ustadz qiroati. Dan secara berkala beliau terus membina para calon ustadz dan mendaftarkannya di Korcab untuk mengikuti Tashih ustadz.

      Ketika beberapa orang hasil didikannya berhasil lulus tashih dan mendapatkan ijazah ustadz qiroati, Ustadz Muhammad Sholehudin memiliki inisiatif untuk mendirikan sebuah TPQ di daerahnya sesuai dengan keinginannya sejak awal. Akhirnya baliau kumpulkan para rekannya yang telah lulus tashih dan beliau kemukakan keinginannya kepada mereka. Mereka pun menanggapinya dengan positif dan mulai saat itu dilakukan persiapan-persiapan yang perlu dilakukan. Membuat surat perijinan, proposal, mengumpulkan wali santri dan lain sebagainya. Singkat cerita berdirilah sebuah taman pendidikan alquran metode qiroati di desanya. Untuk nama TPQ itu sendiri, Ustadz Muhammad Sholehudin meminta sebuah nama oleh seorang Kyai ataupun ulama besar di desanya dan diberinya nama TPQ Baiturrohman.